Derby DIY

Masih hangat di ingatan saya peristiwa kematian Haringga Sirila, seorang suporter Persija Jakarta, di Bandung. Haringga dibunuh oleh beberapa suporter Persib Bandung di area Stadion GBLA sebelum pertandingan antara Persib melawan Persija berlangsung. Ketika berita memilukan tersebut tersebar, ucapan belasungkawa langsung membanjiri media sosial khususnya twitter. Banyak juga pengguna media sosial yang mengutuk para pelaku. Tetapi tak sedikit yang menyalahkan korban karena nekat datang ke Stadion GBLA walaupun sudah ada larangan resmi dari pihak kepolisian untuk suporter Persija menghadiri laga klasik tersebut. Bagi saya itu cukup miris. Saya tidak mendukung keputusan Haringga, tetapi menyalahkan dia dengan alasan dia berada di tempat yang salah adalah suatu kekonyolan. Setahu saya, di hari yang nahas tersebut Haringga datang ke kandang klub sepakbola Persib Bandung, bukan ke markas para begal sadis atau pembunuh bayaran. Atau saya yang kurang informasi?

Kematian Haringga bukanlah kematian suporter yang pertama di tahun ini, dan kejadian serupa seperti berulang dari musim ke musim. Artinya, sampai sekarang kita belum menemukan jalan keluar dari masalah ini. Masalah ini bukan sepenuhnya tanggung jawab PSSI. Bahkan menurut saya, para suporter sendirilah yang bisa menunjukkan jalan keluar dari masalah ini karena mereka yang melahirkannya.

Tulisan ini saya buat di hari yang sama dengan hari pertandingan antara PSS melawan tamunya PSIM di Liga 2 edisi 2018. Dua klub yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang jamak disebut Jogja. Daerah yang terkenal akan keramahan dan kesantunan warganya. Sayangnya hal itu seakan hilang ketika kita sedang membicarakan rivalitas antara PSS dan PSIM. Ketika bertemu di satu stadion para pendukung kedua kesebelasan seakan bukan orang Jogja yang sering diceritakan banyak orang. Pertemuan terakhir bahkan menewaskan satu orang suporter.

Suporter PSS mayoritas berasal dari Kabupaten Sleman, sedangkan suporter PSIM cenderung lebih menyebar dari seluruh DIY dan sekitarnya. Bahkan di Kabupaten Sleman pun tidak sedikit warganya yang menjadi suporter PSIM. Ini dikarenakan umur PSIM yang jauh lebih tua dari PSS. Walaupun begitu beberapa kelompok suporter PSS juga tidak sedikit yang berasal dari luar Sleman. Saya sendiri suporter PSS yang berasal dari Kulon Progo, sebuah kabupaten di bagian barat DIY. Walaupun saya suporter PSS, teman saya kebanyakan adalah suporter PSIM. Derby DIY antara PSS dengan PSIM sebenarnya cukup unik karena batas daerah basis suporter kedua klub tersebut sangat tipis, tidak seperti derby besar lainnya di Indonesia. Hal ini menyebabkan banyak suporter kedua klub yang saling mengenal bahkan berteman akrab. Banyaknya perguruan tinggi di DIY juga mendukung fenomena ini.

Di Derby DIY yang pertama tahun ini, panpel PSIM hanya memberikan kuota 30 tiket untuk suporter PSS. Jauh-jauh hari sebelum Derby DIY yang kedua saya memprediksi panpel PSS akan melakukan hal yang sama untuk suporter PSIM. Jika suporter tamu berbondong-bondong datang dengan jumlah di luar kuota tersebut pasti pihak kepolisian akan dengan sigap menghalaunya. Mereka pasti tidak ingin kecolongan seperti di Derby DIY sebelum-sebelumnya. Entah kenapa saya tiba-tiba membayangkan keputusan tentang kuota tersebut sebagai celah untuk memulai perdamaian antara kedua pihak suporter. Pasti banyak suporter PSS yang mempunyai teman akrab suporter PSIM. Akan sangat menarik jika sepertiga saja suporter PSS yang datang ke stadion masing-masing membawa satu temannya yang seorang suporter PSIM. Kemudian mereka akan berdiri bersama di satu tribun mendukung klub kesayangannya masing-masing. Saya yakin sekali sepanjang pertandingan nanti tidak akan terjadi bentrokan, karena tidak ada teman yang akan mencelakai temannya sendiri meskipun mereka berbeda klub kesayangan. Apapun hasil akhir di papan skor tidak akan bisa menahan senyum dan tawa melengkung di wajah para penikmat seni terindah yang tersaji di Stadion Maguwohardjo sore itu. Begitulah seharusnya Jogja, terbuat dari senyum dan tawa.

Sayangnya untuk hari ini kejadian di atas tadi masih sebatas mimpi, karena kepolisian tidak mengizinkan suporter dari kedua klub untuk menyaksikan Derby DIY sore nanti langsung di stadion. Kita coba di kesempatan berikutnya?

Mungkin saya memang seorang pemimpi, tetapi saya yakin saya bukan satu-satunya. (John Lennon)

Advertisements